MAPALA STTL
Mapala Ku Mapala
STTL
Organisasa yang bermuatan Lingkungan dan adventure

Sebuah Memori yang tak biasa terlupakan di
Organisasi saya yaitu Mapala STTL, begitu banyak cerita serta pengalaman, baik
dalam sebuah Organisasi, maupun didalam Petualangan “Adventure” canda tawa,
serta suka duka yang telah kita lewati bersama, merupakan pembelajaran yang
menyongsong kita untuk menjadi orang selalu bersukur, atas semua peristiwa baik
yang sudah terlewatkan maupun yang sedang dijalani. Saya pribadi sangat
bersukur biasa hadir di tengah-tengah keluarga besar ini, disini saya biasa
mengenal satu sama lain, biasa berbaur dari yang tua, sampai yang muda, dari
yang mempunyai banyak pengalaman sampai berbagi pengalaman, bahkan dari
berbagai jenis suku bangsa, tetapi kami tak memperdulikan semua itu, karena
disini kami satu payung dalam sebuah organisasi “Mapala STTL”dengan tujuan yang
sama yaitu “MAMAHU HAYUNING BAWONO” yang diartikan menjaga serta melestarikan
alam. Kami banyak belajar dari Alam, dan alam juga sebagai tempat kami berlatih
dan berkreatifitas untuk mengasah potensi yang telah tertanam didalam diri kami
masing-masing.
Seperti kata pepatah yang pernah dilontarkan oleh
senior saya “Alam ibaratkan sebuah buku tebal yang tak akan pernah habis untuk
dibaca” kata-kata tersebut saya dapatka disaat waktu diksar saya yaitu Diksar
XV Mapala STTL yang dilaksanakan di Lereng Selatan Gunung Merapi dan sampai
sekarang masih teringat dalam benakku, bahkan saya rasa dari 18 teman satu
angkatan dan satu diksar sama saya juga masih mengingat kata-kata itu. Ya
memang sebuah kata-kata yang singkat dan padat tetapi mempunyai makna yang
sangat luas.
Isi dari cerita ini tentang sebuah pengalaman
yang sangat pahit dan manis dalam Organisasi saya yaitu Diksar XV Mapala STTL
yang dilaksanakan di Lereng Selatan Gunung Merapi yang beranggotakan 18 peserta
yang terdiri dari berbagai karakter. Banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi
dilapangan baik dalam bentuk konflik peserta sama peserta, peserta sama senior
“oprasional” dan juga faktor alam serta karakter gunung yang menyimpan bayak
misteri, yang menjadi sebuah cerita yang panjang dan lebar. Tetapi disini saya
menyimpulkan bahwa setiap usaha atau kegiatan yang kita lakukan itu pasti
selalu di temukan pada rintangan dan tidak semuanya biasa berjalan lurus.
Hingga sampai pada akhirnya biasa lulus ujian dan dilantik menjadi Anggota
Muda, dengan nama angkatan kami yaitu SERABUT BAMBU (SB). setelah sekian lama
ditempa di Alam dengan kondisi yang sangat begitu Extrim, baik dari segi medan,
cuaca, fisik dan mental kami selama di lapangan.
Namanya SORWARU, karena menurut sejarah dari
beberapa sesepuh dari pendiri Mapala STTL, bahwa dulunya tempat ini ada sebuah
pohon Waru, dan pada akhirnya di sebut SORWARU atau dalam bahasa jawa ngisornya
waru “belakangnya pohon waru” disinilah pertama kalinya terbentuk sebuah
Kelompok Pecinta Alam yang disebut dengan Mapala STTL, sedangkan SORWARU itu
sendiri tempat dimana sekumpulan orang-orang yang mempunyai hobi yang sama,
dengan berbagai karakter yang berbeda-beda. Atau biasa di sebutkan tempat
berkumpulnya orang-orang liar yang disatukan dengan satu tujuan yang sama. Di
tempat inilah saya dan teman-teman sering berkumpul dan nongkrong bersama
cerita bersama diskusi bersama dalam berbagai hal, baik dalam pengalaman,
pengetahuan dan yang lainya dari masing-masing orang dengan karakter yang masih
terbawa asalnya. Disinilah tercipta sebuah keharmonisan dalam keluarga
terkadang hal-hal konyol yang mewarnai setiap waktu yang membuat kami betah
berada dalam lingkaran Sorwaru. Hari demi hari pun sering saya lewatkan bersama
teman-teman dengan berbagai kegiatan baik yang menyangkut dalam segi
petualangan, entah itu gunung, tebing, gua, air maupun lingkunganya. Begitu banyak
waktu yang kami miliki hanya kami isi dengan jalan-jalan untuk berpetualang,
sehinga berjalanya waktu satu demi satu pengalaman mulai kami raih. Namun ada
juga dari kami yang lebih mementingkan urusan kuliahnya dibanging banyak
berkegiatan dilapangan, yaitu sebenarnya tujuan pertama saya juga, yang
jauh-jauh dari Kalimantan. Namun saya menyadarinya bahwa sebuah pengalaman itu
bukan hanya didapatkan dari bangku kuliah saya tetapi justru banyak didapat
dari pengalaman yang terjun lansung kelapangan.
Namun disisi lain untuk menjadi seorang Mapala
bukanlah hal yang mudah dibutuhkan kesiapan baik pisik maupun mental sehingga
tidak asing juka seorang Mapala mempunyai mental yang siap dalam kondisi
apapun, karena memang dari segi pendidikanya sudah ditanamkan jiwa-jiwa handal
dalam segala apapun, manun ada juga segi positif dan negatifnya. Namun kita
siap menghadapi hal ya terbaik dan hal yang terburuk. Tapi dalam hal ini kita
punya prosedur didalam sebuah kegiatan, untuk meminimalisir terjadinya hal-hal
yang tidak diinginkan. Begitu juga hal-hal yang lainya, begitulah sepak
terjangnya dalam sebuah Organisasi apalagi dalam hal ini Organisasi yang
berdadapan dengan tantangan didalam beradventur.
“Banyak hal-hal baru yang anda dapatkan dalam
berorganisasi tergantung jenis Organisasinya seperti apa, tinggal bagaimana
cara kita menyikapi semua itu”
Didalam Organisasi juga terdapat beberapa materi
tentang berkegiatan didalam Alam bebas, dan juga menejemen-menejemen serta
peralatan serta tak luput juga biaya agar terlaksananya sebuah kegiatan dengan
dukungan dari berbagai pihak, serta fisik maupun mental sebelum berkegiatan
yang dilatih sebelum berkegiatan bahkan sesudah berkegiatan, serta evaluasi
yang selalu dilontar kan dari berbagai pihak maupun perorangan guna terkontrolnya
dalam kegiatan dan mencegah hal-hal yang sudah terjadi terulang lagi, dengan
tujuan supaya lebih maju dalam menjalankan sebuah Organisasi, hal-inilah yang
saya dapatkan selama di dalam berorganisasi yang menjadi sebuah pelajara yang
tidak saya dapatkan dibangku kuliah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar