Senin, 15 Juli 2013

Hidup Adalah Perjuangan

Cerita Sebuah Perjalanan Anak Rantau

Assalamualaikaum wr.wb Cerita ini mengawali catatan pertama saya di blog ini...bagi para pembaca, mohon kritik dan saranya, demi membangun,untuk kedepanya yang lebih baik.sekian dari saya "Waalaikumsalam wr.wb"...Sebuah perjuangan, dan perjalanan yang cukup berat dan panjang bisa berada dikota yang istimewa ini '' Yogyakarta " yang tak pernah ku bayangkan sebelunya, Sepanjang perjalana hidupku.. :')Ya begitulah kira-kira, karena bagaimana mungkin orang seperti saya bisa menginjakan kaki di kota pelajar ini. Namun kehendah bertindak lain, dengan bermodalkan nekat, serta jiwa petualang yang kuat, sejak tertuang dari yang ayah, akhirnya saya bisa sampai di kota seni ini, beliau pernah berpesan "lakukanlah apa yang menurutmu itu bagus untukmu, perkara kamu bisa atau tidak itu tergantung  pada tekatmu, ayah hanya bisa mendoakan,semoga kamu bisa pergi merantau dengan tekatmu dan kembali dengan hasilmu yang memuaskanmu" saya sempat terdiam dan berpikir, dan sayapun kemudian menjawab pesan ayah " pak saya sudah memikirkanya dengan matang, tekat saya sudah bulat, dan saya akan tetap pergi, apapun yang terjadi nanti inilah resiko saya, dan saya akan menanggungnya ". Memena apa yang dikatakan oleh orang itu benar 'jika dari sang ayah adalah perantau, maka ujung-ujungnya anaknya pasti akan menjadi seorang perantau' inilah yang ayah tanamkan pada saya sejak saya masih kecil. Setelah mendapatkan persetujuan dari sang ayah saya merasa lega, walupun kelihatanya ayah masih belum yakin, terlihat sekali dari raut wajahnya. Dan beberapa menit kemudian ibu muncul dari balik pintu, ibupun langsung menatap wajahku, seolah ibu mendengar perbincanganku dengan ayah, saat itu pula aku melihat wajah cantik ibu meneteskan air mata, sejenak aku terdiam dan menarik napas panjang  '' Ya Alloh kuatkanlah Hati, dan tekat ini biarkanlah aku pergi, dan pulang membawa hasil yang nantinya membuat kedua orang tuaku bangga dan tersenyum kepadaku" tanpa aku sadari air mataku pun mulai menetes. Ya mungkin karena ini baru pertama bagiku berpisah sama orang tua dengan jarak yang jauh.Dengan bekal pengalaman selama SD, SMP sampai dengan SMA yang dari dulu sudah mulai merantau karana ditempat asal saya tinggal tidak ada sekolahan. Sayapun mulai mempersiapkan keperluan seperti pakaian dan yang lainya, diiringi dengan suasana yang begitu terharu dan bekal semangat dari sang ayah saya pun mulai memasukan barang-barang satu persatu untuk memasukanya ke tas kesayangan saya sejak SMA. dan kemudian ibu memberiakan sedikit uang untuk transpot untuk menuju ketempat tujuan.Sebelum keberangkatan sayapun menyeppatkan diri untuk berpamitan kepada teman-teman dan kerapbat dekat saya, dengan memohaon do'a serta restunya semoga saya di lancarkan dalam perjalanan hingga sampai pada tempat tujuan. Selamat serta do'a dan dukungan dari teman-teman serta kerabat pun mulai membanjiri benak dan pukiranku, aku menyadari semua support dan dukungan dari mereka membuatku tambah semangat, untuk tetep melangkah pergi menuju kota pelajar itu, saya juga yakin suatu saat nanti ketika waktunya saya kembali dengan menbawa hasil yang nantinya akan membuat tersenyum dan bangga pada diriku.Dan saya pun mulai memintak restu kedua orang tua untuk segara berangkat, mengingat waktu keberangkatan sudah mulai ditunggu oleh transportasi saya, dengan mengucapka BISSMILLAH saya pun mulai melangkahkan kaki menuju transportasi air, dengan diiringi kedua orang tua saya, tangisan saya dan kedua orang tua saya dan juga teman-teman serta kerabat, membuat saya enggan untuk meninggalkan mereka, tapi bagaimana mungkin saya membatalkanya karena tekat saya sudah bulat. Disini saya merasa ibu tidak sanggup melihat kepergian saya, tetapi melihat ketegaran Ayah yang membuat saya semangat. Lambaian tanganpun saya tujukan kepada sang ayah, untuk menyakinkan kepada beliau bahwa saya pasti bisa melewatkan semua ini.Transportasi mulai melaju, mengiringi kepergian saya, didalam perjalanan saya pun merasa terpukul dan tak sedikit waktu terkadang air matapun menetes tampa saya sadari, begitu sedihnya meninggalkan orang-orang yang kita sayangi, kenangan-kenangan akan kampung halaman yang begitu saya cintai selalu menhantui perjalanan panjangku. Perjalanan yang ditempuh dengan memakan waktu kurang lebih 3 hari perjalanan menguras tenaga dan pikiranku, tapi karena tekanku, semuanya bisa aku lalui hingga akhirnya bisa sampai ketekmpat tujuan "kota pangkalan bun" .Di pangkalan bun saya sempat menginap di tempat kakak saya "Nurlela" kakak kakak kandung saya, beliau juga merantau sejak SMA hingga mempunyai suami orang jawa dan menetap di kota tersebut. Kami adalah kakak beradik yang sering bertengkar diwaktu masih kecil dan bahkan sekarangpun sering salah pahan karena beda pendapat, namun terkadang rasa kangen antara kami tak bisa kami tak bisa kami hindarkan, karena hanya 2 bersaudara, ketika berada dikejauhan rasa sayangpun pasti akan kami rasakan. Sebelum berangkat kakak juga banyak menitipkan pesan yang membuat saya merasa terharu, meskipun kami sering bertengkar rasa kwatir dan sayang kami tetap terjalin seperti kakak dan adik. Keesokan harinya akupun berpamitan sama kakak untuk beerangkat menujju pelabuhan "penglima utar kumai" untuk menuju kapal yang akan saya tumpangi untuk berlayar menuju pulau jawa, dengan di temani teman semasa SMA saya, dan kakakku pun mengujinkan  untuk berangakat dengan diantar menggunakan sepeda motor menuju pelabuahan, sampai di kumai saya mulai membeli tiket untuk keberangkatan. Inilah pertama laki saya menyebrangi lautan yang luas ini, rasa kagum akan kebesaran Alloh atas ciptanya membuat saya sadar bahwa saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan ciptanya. Dan akhinya sayapun saya sanpai di pelabuahan tanjungmas semarang, dan kemudian dilanjutkan menuju kota Yogyakarta....Begitulah ceritanya ....

x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar