Selasa, 08 Oktober 2013

TEKNIK DASAR PANJAT TEBING

Aktifitas panjat tebing dahulu merupakan bagian dari kegiatan mendaki gunung ( ontainneering). Dalam mendaki gunung, tidak ada keberhasilan tampa meraih puncak, namun ketika idealis pendaki pendaki gunung terhalang oleh dinding yang mesti dilewati dengan cara biasa, mulailah orang berfikir “rock climbing in the answer”

Pada tahun 1950, anggapan orang-orang bahwa panjat tebing merupakan bagian dari mendaki gunung, mulai bergeser, karena pemanjat tebing (climber) merupakan kelompok masyarakat baru dari usia menengah sampai anak-anak dan dapat melakukan secara sederhana  asalkan ada media yang dapat dipanjat. Dalam kurung waktu satu tahun, tahun 1951 perkembangan dunia panjat tebing demikian pesat. Pemanjat tebing mulai mereka-reka. Para pemanjat inggris sudah dijadikan tolak ukur pemanjat bebas (free), pemanajt Prancis dan Italia lebih dikenal dengan gaya pemanjatan artifisial, sedangkan pemanjat Jerman mempelopori pemanajat cepat (speed). Dan sampai sekarang teknik dalam gaya tersebut masih dipakai dalam pemanjatan tebing.

Ciri khas pemanjat tebing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan, selain itu juga adanya frinsip dan etikadalam pemanjatan. Seorang pemanjat tebing dituntut keberanian, ketelitian, kemampuan berfikir dan bertindak disaat keritis, kekuatan fisik yang baik, kelenturan tubuh dan penguasaan teknik yang benar. Tanpa asfek tersebut maka pemanjat tebing merupakan arena “ bunuh diri semata”.

Prinsip pemanjatan : Kaki, menopang tubuh sementara tangan bembantu menciptakan keseimbangan, penghematan gerak dan tenaga serta pembagian berat badan pada tumpuan tangan dan kaki untuk menambah ketinggian, dalam arti bila satu tangan atau kaki mencaritumpuan, tangan dan kaki lainya harus menyangga tubuh secara bersama-sama (three poin). Usahakan jarak cukup antara badan dan tebing, kadang-kadang kita perlu merapatkan badan dibeberapa bagian tebing. Kerugian bila muka terlalu dekat dengan tebing, penglihatan mata menjadi terbatas. Padahal, mata sangat diperlukan untuk mencari pegangan atau menentukan lintasan.













      







# Jenis-Jenis Gerakan Pada Batuan

Pemanjatan dilakukan dengan memanfaatkan cacat batuan tebing. Cacat batuan dapat berupa permukaan tebing yang kasar, celah atau rekahan (crack) besar dan kecil sebagai pegangan atau tumpuan dan tonjolan-tonjolan. Secara garis besar tonjolan dapat berbentuk tonjolan tajam, datar dan melengkung.












Teknik pegangan dan pijakan tergantung pada bentuk dan ukuran cacat batuan. Untuk gerakan pemanjat, tangan dapat memegang, menekan dan menggenggam atau menjepit, baik keatas, kebawah, atau kesamping. Untuk celah atau rekahan, gerakan pemanjat dilakukan dengan cara menjejalkan ( jamming) tangan atau kaki.

















Tapi alangkah baiknya bila batuan yang akan digunakan sebagai pegangan atau tumpuan dicoba lebih dahulu untuk mengetahui apakah batuan tersebut cukup kokoh atau rapuh. Gunakan pukulan tangan,tendangan atau palu tebing untuk memastikanya, dari suara akan diketahui kekuatan batu tersebur.









# Macam-macam Gerakan Dalam Memanjat

Seperti halnya jenis-jenis peganga, gerakan dalam pemanjatan disesuaikan dengan bentuk batuan.

1.      Lay Backing
      Teknik ini digunakan pada saat celah vertical yang membentuk sudut, baik besar maupun kecil. Dasar gerakanya adalah pengunaan tenaga berlawanan arah (counter force), yaitu dengan mendorong dinding didepan dengan kaki seraya menahan beban badan dengan tarikan tangan pada celah.


           2.      Chimneying
         Teknik pemanjatan pada tebing batu berbentuk celah vertical mirip dengan cerobong asap. Caranya tubuh pemanjat diselipkan kedalam celah, lalu dengan tekanan atau dorongan kebagian dinding depan dan tubuh bersandar dan menempel dinding belakang seolah menyumbat cerobong tersebut.Besar dan kecilnya “cerobong” atau celah tebing memciptakan beberapa variasi gerakan dalam chimneying: 

a.         Wriggling adalah gerakan memenjat dengan teknik chimneying yang dilakukan pada                        celah yang hanya bias disusupu tubuh sebisanya .

b.          Backing Up adalah gerakan memanjat dengan teknik chimneying yang dilakukan pada                    celah tebing yang cukup luas hingga badan dapat bergerak bebas serta tanga dan kaki                    dapat secara penuh menekan atau mendorong dinding tebing. 

c.           Bridging adalah gerakan memenjat dalam teknik chmneying yang dilakukan pada celah                  yang lebar, posisi tubuh pemanjat menghadap keluar atau kedalam celah. Sebagian                          besar tubuh disanggah oleh kedua kaki dengan posisi melebar sementara                                          tangan membantu gerakan naik.



              


3.      Mantleshelfing

Ciri dari gerakan ini adalah penggunaan tangan untuk menekan pinggiran tebing atau pegangan yang luas agar badan dapat terangkat keatas. Hal ini dilakukan karena kaki tidak memperoleh tumpuan atau pijakan. 

4.      A cheval
        Gerakan memanjat yang dilakukan pada gigir atau pegunungsn tebing yang tipis dan tajam, gerakan ini persis sebagai orang yang sedang menunggangi kuda.

# Macam-macam gerakan kaki

1.      Friksi
Gerakan kaki pada bidang miskin pijakan dan berguna untuk menambah ketinggian dan keseimbangan tubuh yang baik.

2.      Edging
Gerakan kaki dengan memamfaatkan ujung sepatu untuk mendapatkan pijakan serta menambahkan jangkauan.

3.      Smearing
Gerakan kaki dengan memamfaatkan sisi sepatu sebelah luar atau dalam guna memperoleh tambahan jangkauan dan keseimbangan.

4.      Hooking
Memamfaatkan tumit sepatu untuk mengangkat tubuh dan biasanya digunakan saat akan keluar roof (tebing atap).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar