Aktifitas panjat tebing dahulu merupakan bagian dari kegiatan mendaki gunung ( ontainneering). Dalam mendaki gunung, tidak ada keberhasilan tampa meraih puncak, namun ketika idealis pendaki pendaki gunung terhalang oleh dinding yang mesti dilewati dengan cara biasa, mulailah orang berfikir “rock climbing in the answer”
Pada tahun 1950, anggapan orang-orang bahwa panjat tebing merupakan bagian dari mendaki gunung, mulai bergeser, karena pemanjat tebing (climber) merupakan kelompok masyarakat baru dari usia menengah sampai anak-anak dan dapat melakukan secara sederhana asalkan ada media yang dapat dipanjat. Dalam kurung waktu satu tahun, tahun 1951 perkembangan dunia panjat tebing demikian pesat. Pemanjat tebing mulai mereka-reka. Para pemanjat inggris sudah dijadikan tolak ukur pemanjat bebas (free), pemanajt Prancis dan Italia lebih dikenal dengan gaya pemanjatan artifisial, sedangkan pemanjat Jerman mempelopori pemanajat cepat (speed). Dan sampai sekarang teknik dalam gaya tersebut masih dipakai dalam pemanjatan tebing.
Ciri khas pemanjat tebing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan, selain itu juga adanya frinsip dan etikadalam pemanjatan. Seorang pemanjat tebing dituntut keberanian, ketelitian, kemampuan berfikir dan bertindak disaat keritis, kekuatan fisik yang baik, kelenturan tubuh dan penguasaan teknik yang benar. Tanpa asfek tersebut maka pemanjat tebing merupakan arena “ bunuh diri semata”.
Prinsip pemanjatan : Kaki, menopang tubuh sementara tangan bembantu menciptakan keseimbangan, penghematan gerak dan tenaga serta pembagian berat badan pada tumpuan tangan dan kaki untuk menambah ketinggian, dalam arti bila satu tangan atau kaki mencaritumpuan, tangan dan kaki lainya harus menyangga tubuh secara bersama-sama (three poin). Usahakan jarak cukup antara badan dan tebing, kadang-kadang kita perlu merapatkan badan dibeberapa bagian tebing. Kerugian bila muka terlalu dekat dengan tebing, penglihatan mata menjadi terbatas. Padahal, mata sangat diperlukan untuk mencari pegangan atau menentukan lintasan.
![]() |
# Jenis-Jenis Gerakan Pada Batuan
Pemanjatan
dilakukan dengan memanfaatkan cacat batuan tebing. Cacat batuan dapat berupa
permukaan tebing yang kasar, celah atau rekahan (crack) besar dan kecil sebagai
pegangan atau tumpuan dan tonjolan-tonjolan. Secara garis besar tonjolan dapat
berbentuk tonjolan tajam, datar dan melengkung.
Teknik pegangan dan pijakan tergantung pada bentuk dan ukuran cacat batuan. Untuk gerakan pemanjat, tangan dapat memegang, menekan dan menggenggam atau menjepit, baik keatas, kebawah, atau kesamping. Untuk celah atau rekahan, gerakan pemanjat dilakukan dengan cara menjejalkan ( jamming) tangan atau kaki.
Tapi alangkah baiknya bila batuan yang akan digunakan sebagai pegangan atau tumpuan dicoba lebih dahulu untuk mengetahui apakah batuan tersebut cukup kokoh atau rapuh. Gunakan pukulan tangan,tendangan atau palu tebing untuk memastikanya, dari suara akan diketahui kekuatan batu tersebur.
# Macam-macam Gerakan Dalam Memanjat






.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar